Kamis, 19 Mei 2011

Foto-foto Sumbawa Masa Lalu

Photo ini merupakan koleksi yang didapatkan dari musium Leaden Belanda. Photo Ini merupakan Kiriman dari Sdr. Donald yang merupakan pemerhati masalah Kerajaan Nusantara. Beberapa Photo penting dapat bercerita tentang masa lalu kerajaaan yang ada di Pulau Sumbawa



Gambar Istana Sumbawa pada tahun 1910


Kondisi Rumah Perkampungan


Pejabat KeSultanan Sumbawa


Pejabat keSultanan Sumbawa dengan Famili-nya


Sultan Sumbawa dengan VOC


Rakyat Bima Berparade dihadapan VOC

Rakyat Pulau Sumbawa


Raja Sumbawa di Istana bersama VOC


Keluarga Belanda yang ada di Sumbawa

Sultan Sumbawa Berpose dengan Petinggi Belanda


Sultan Kaharuddin III


Istana Sumbawa


Sultan Kaharuddin III di Singgasanah Kerajaan


Sultan Sumbawa


Putri Sultan Sumbawa


Istana Sumbawa dari Kejauhan


Suasana di Istana Sumbawa


Sultan dan Kerabat dengan Petinggi Belanda


Seorang Penari dihadapan Sultan Sumbawa 


Sultan Sumbawa sedang berpose dihalaman rumahnya


Sudut Perkampungan di Sumbawa


Sultan Sumbawa dalam salah satu acara kenegaraan


Sultan Sumbawa dan Pengawalnya 


Sultan Djalaluddin dengan para pengawalnya


Suasana di Wisma Sumbawa


Berita Photo di Panji Pustaka tentang peresmian Keraton baru di Sumbawa


Istri dan keluarga Raja Sumbawa

Raja-raja Sumbawa

Sejarah Nama-Nama Daerah di Sumbawa

Nama-nama Daerah di Sumbawa ini bukan berdasarkan kajian akademis, namun berdasarkan asumsi-asumsi yang berkembang dalam masyarakat. Nama-nama ini bisa muncul karena kedekatan pengertian suku kata, nama lokasi atau karena mitos yang berkembang didaerah tersebut.

Pembaca diharapkan berpartisipasi untuk bisa menginformasikan sejarah nama-nama daerah yang belum di jelaskan, atau bahkan menambahkan penjelasan atas nama-nama yang sudah diberi penjelasan. Bahkan pembaca bisa sekaligus menambahkan nama-nama baru yang belum di munculkan dalan artikel ini.
Usulan pembaca dapat ditulis di kolom komentar yang ada di bawah artikel ini.

Alas
Alas saat ini masih berstatus kecamatan di Kabupaten Sumbawa, sebutan Alas karena lokasi alas berada di kawasan dataran rendah namun mempunyai tingkat kesuburan yang relatif lebih baik. Saat zaman dulu Alas masih dikelilingi oleh hutan yang lebat. Nama alas diperkirakan mempunyai pengaruh dari bahasa Jawa Kuno, yang indentik dengan hutan.

Badas

Brang Rea
Brang Rea merupakan kecamatan yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat, Brang Rea artinya sungai yang besar. Daerah dimana brang rea berada memang berada sungai yang besar yang hulunya menuju taliwang
Brang Bara
Terletak di Kota Sumbawa Besar. Brang Bara atau Jelasnya Kali Kandang.......Karena menurut cerita jaman dulu orang-orang membuat Bara(kandang) dipinggir Kali (brang). Maka jadilah sebutan Brang Bara atau juga identik dgn Lawang Galinya Brang Bara yg dalam arti Lawang( Pintu) dan Gali( Intinya Kayu ) Dan juga dulu waktu jaman Kerajaan orang2 yang mau lewat disitu atau m***k ke daerah Brang Bara harus permisi dulu( tabe) karena klo tidak permisi tau sendiri akibatnya
Batu GongBatu gong terletak di Kecamatan badas Kab Sumbawa, dinamakan batu gong karena disalah satu gua terdapat batu yang menyerupai Gong. Batu ini tempat persembahan ritual kepercayaan masyarakat zaman dulu.
Batu Lanteh
Buer

Benete

Empang
Empat saat ini masih berstatus kecamatan di Kabupaten Sumbawa. Posisi Empang yang berada di sebelah timur dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Dompu menjadi factor utama daerah tersebut dinamakan Empang.
Saat kerajaan Gowa menguasai Bima, mereka ingin melakukan ekspansi ke Sumbawa, namun kekuatan bala tentara kerajaan Sumbawa cukup kuat. Untuk menghadang kekuatan serangan Kerajaan Bima yang sudah di kuasai Gowa maka di empanglah ( dihadanglah ) tentara tersebut diwilayah perbatasan. Empang dalam bahasa Indonesianya yakni hadang.

Jereweh
Kaduk
Labangka
Lantung
Lape
Lempeh
Terletak di Kabupeten Sumbawa, Lempeh berasal dari kata Lempe artinya selalu penuh. Riwayatnya daerah tersebut sering kebanjiran dan airnya selalu penuh.  Akibat air yang selalu melimpah dan berlebih maka daerah tersebut dinamakan Lempeh

Lenangguar
Lenangguar saat ini berstatus kecamatan di Kabupaten Sumbawa. Lenangguar berasal dari dua suku kata yakni lenang dan guar. Lenang artinya lapangan dan kata guar berasal dari kata luas/lebar. Lenangguar  artinya lapangan yang luas.
Lopok
Lunyuk
Mapin
Marente
Maronge
Meraran

Moyo
Orong Telu
Orong Telu saat ini berstatus kecamatan di Kabupaten Sumbawa. Orang telu berasal dari dua kata yakni orong dan telu, orong artinya wilayah persawahan dan telu artinya tiga. Orang telu mengandung arti tiga wilayah persawahan.


Plampang
Terletak diujung Timur Kabupaten Sumbawa Plampang berasal dari 2 kata yaitu PLAM=MANGGA, EMPANG=HADANG.. Untuk menyingkat dan memperindah ejaan kini menjadi PLAMPANG..
Zaman kerajaan dulu (ga tau Zaman Raja siapa).. Ada 2 remaja, mereka berdua terkenal sangat nakal dan suka membuat onar...
Pada suatu hari mereka berdua lagi boring... Lalu (sebut saja si "Pre'" (maaf kalo ada org dgn nama yg sama, saya ga bermaksud menyinggung anda)) mengajak si Sendepenk (nm samaran) pergi ke kebun Pen Robert... Mereka berdua berniat mencuri mangga di kebun itu... Singkat crita, mereka berdua telah berada diatas pohon mangga Pen Robert sambil asik melahap buah mangga dengan rakusnya... Tak disangka dan tak diduga ternyata Pen Robert datang... Lalu Pen Robert melihat mereka berdua... Mengetahui aksinya ketahuan, mereka berdua langsung loncat dari pohon (karena Pen Robert telah menghunuskan parangnya alias berang)... Tapi mereka tidak berhasil meloloskan diri karena telah di hadang(EMPANG) Pen Robert... Lalu Pen Robert membawa mereka ke pihak yang berwajib... Penduduk kampung senang banget mereka berdua tertangkap, karena tidak ada lagi pengacau... Lalu malam berikutnya para penduduk desa mengadakan party 14 hari 14 malam... Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut orang desa menamakan daerah itu dengan nama PLAMPANG.....
Prek Mayung
Prek Mayung merupakan sebuah dusun di kecamatan Utan, letaknya diantara kecamatan Buer dan Utan. Sebutan Prek Mayung disebabkan dulu daerah tersebut banyak keliaran rusa-rusa liar. Prek Mayung artinya Penisnya menjangan. Karena pemburu suka sekali menangkap rusa didaerah tersebut dan penis rusa menjadi santapan favorit makan wilayah ini dinamakan prek mayung.

Rhee
Rhee saat ini masih berstatus kecamatan di Kabupaten Sumbawa, sebutan rhee diambil sejenis pohon yang ada di hutan setempat.

Samapuin
Terletak di wilayah Kabupaten Sumbawa, disebut Samapuin karena di daerah itu dulu banyak pohon yang sejenis atau sama. Puin artinya pohon.

Samarekat
Samarekat berada diantara kecataman Seteluk dan Alas Barat, samarekat merupakan nama belokan yang ada di bukit-bukit. Samarekat artinya sama-sama sempit, karena kondisi jalan saat dulu memang sempit dan dikiri kanan terdapat jurang. Meskipun kondisi jalan saat ini sudah lebar dan tidak terlihat berbahaya, nama wilayahnya masih samarekat

Seteluk
Disinyalir kata seteluk itu berasal dari kata "sebuah teluk"... Karena disana ada satu teluk indah yang dahulu kala digunakan sebagai terminal penyeberangan menuju lombok, namanya "Sepakek".. (Lokasinya mungkin hanya satu atau dua kilometer dari Labu Tano)

Sebedo

Seloto
Semamung
SEMAMUNG (ibukota kecamatan Moyo Hulu) SE = satu , MAMUNG = Bau = Senasib sepenangungan. tapi ada juga yang mengatakan bahwa nama semamung berasal dari nama tanaman yang banyak sekali terdapat di sekitar desa semamung yaitu tanaman SANG MAMUNG. Tanaman dengan bau yang khas, dan bunga yang cukup indah. saat ini sudah mulai dikembangkan menjadi tanaman hias yang cukup indah.
Semongkat

Sekongkang

Songkar
Songkar diambil dari nama sebuah pohon yang sekarang sudah tidak banyak ditemukan lagi dimanapun..Konon cerita,pohon itu hnaya tingal satu pohon saja di seputaran Olat Cabe..Tapi sampai sekarang orang "Songkar" berusaha mencarinya dan belum ketemu..

Sumbawa
Sumbawa saat ini merupakan Kabupaten, masyarakat lokal menyebutnya samawa. Kata samawa sendiri sebenarnya berasal dari arab yang kerajaan langit. dalam kalimat arabnya “samawatiwal ardy”. Kedekatan etnis samawa dengan Arab sangat kuat, ciri-ciri Arab diwajah orang Sumbawa sangat kental dengan ciri hidung yang mancung.
Sebelum suku dari Makasar ekspansi ke Sumbawa, kedatangan orang Arab telah lebih dulu berada di Sumbawa.
Perubahan dari kata Samawa ke Sumbawa dikarenakan adanya pencampuran etnis pendatangan, sehingga ucapan bergeser dari samawa menjadi sumbawa.
Taliwang
Taliwang merupakan Ibu Kota Kabupaten Sumbawa Barat, Nama Taliwang berasal dari kata tali dan lawang, yang artinya tali dan pintu.
Riwayat lain menyebutkan Taliwang berasal dari dua kata yakni Tali dan Iyang sehingga penyebutan menjadi Taliang. Tali bermakna tali dan iyang bermakna uang, kata taliang mengandung uang yang diikatkan  dengan tali atau disembunyikan. Sikap masyarakat yang sengaja mengikat dan menyembuyikan uang disebabkan dulu daerah ini marak dengan pencurian dan perampokan.

Tanjung MenangisTanjung menangis terdapat di Kabupaten Sumbawa, letaknya mengarah ke pulau moyo, Nama tanjung menangis diambil dari sebuah hikayat setempat yang isinya seorang puteri pernah mengasingkan diri di sebuah tanjung.
Sepeninggal puteri tersebut masyarakat sering mendengar ada suara tangisan, dan daerah tempat tangisan tersebut terdengar di namakan tanjung menangis.

Tano
Tarano

Tepal
Terusa
Unter Iwis
Nama kecamatan di Kabupaten Sumbawa ini di ambil dari dusun Kerato yg dulunya bukit-bukit yg ada di sekitar desa banyak di tumbuhi oleh tanaman sejenis Palm dan seratnya seperti Ijuk yg biasa di buat tali dan sapu...tapi iwis ini berbeda dengan pohon enau ( puin pola bahasa samawa ) .
Untir artinya bukit-bukit, iwis artinya pohon enau kedua kalimat tersebut mengandung arti pohon enau yang ada dibukit-bukit.
Utan
Utan saat ini masih berstatus kecamatan di Kabupaten Sumbawa, sebutan Utan sebenarnya berasal dari kata Hutan, untuk menyingkatkan ucapan maka menjadi Utan. Utan yang bertentangga dengan Alas merupakn satu rangkaian yang dulunya merupakan hutan lebat, untuk membedakan satu wilayah dengan wilayah lainnya maka di sebutlah Utan untuk wilayah Timur dan Alas untuk wilayah Barat

Dalam Loka (Istana Tua)


Dalam Loka atau Istana Tua bekas kediaman resmi Raja Sumbawa, kini tidak lagi berdiri megah dan kokoh, semegah dan sekokoh adat dan budaya Samawa dimasa lalu. Tidak tahu kepada siapa kita harus bertanya, mengapa semua ini terjadi.Mungkin kita harus bertanya kepada rumput yang bergoyang ?? atau kepada siapa.....wallahu a'lam

Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat adalah bekas wilayah kesultanan Sumbawa yang diperintah oleh Sultan Muhamad Kaharuddin III (1931-1958) yang merupakan sultan terakhir dari dinasti Amasa (Mas) Bantan Dewa Dalam Bawa. Mengingat Sumbawa yang pernah menjadi wilayah kerajaan tentu saja sangat banyak memiliki dan meninggalkan warisan benda-benda budaya yang patut dilestarikan.


Peninggalan Kesultanan Sumbawa yaitu istana Dalam Loka yang didirikan pada tahun 1885 oleh Sultan Muhamad Jalaluddin III (1883-1931). Pada tanggal 13 Nopember 1975 dibuat pernyataan bersama antara keluarga Sultan Muhamad Kaharudin III (1931-1958) mengenai kesepakatan penyerahan pemugaran istana tua Dalam Loka kepeda pihak pemerintah (Dirjen Kebudayaan Depdikbud RI). Hak milik atas istana Dalam Loka dan pekarangan tetap menrupakan hak turun temurun dari Sri Sultan M. Kaharuddin III.. Mulai sejak saat itulah biaya pemugaran datang dari APBN dan APBD I Prov. NTB, dan menjadi situs areal temuan benda-benda purbakala.


Pengertian Dalam Loka sendiri berarti, Dalam = istana, rumah-rumah dalam lingkungan istana, Loka = Dunia, tempat. Dalam Loka bermakna istana tempat tinggal raja, katakanlah pusat pemerintahan. Pada tahun 1932 didirika istana baru yaitu Gedug Wisma Praja. Pun menjadi kebanggan rakyat Sumbawa, model istana Dalam Loka menjadi prototype bangunan adat mewakili NTB di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.


Konsepsi Bangunan :


Sebelum Dalam Loka dibangun di atas lokasi yang sama pernah dibangun pula beberapa istana kerajaan pendahulu. Diantaranya Istana Bala Balong, Istana Bala Sawo dan Istana Gunung Setia. Istana-istana ini telah lapuk dimakan usia bahkan diantaranya ada yang terbakar habis di makan api. Sebagai gantinya, dibangunlah sebuah istana kerajaan yang cukup besar ukurannya beratap kembar serta dilengkapi dengan berbagai atribut. Istana yang dibangun terakhir ini bernama Dalam Loka.


Arsitektur Dalam Loka sebagai istana memiliki bentuk yang istimewa, tidak sama seperti bangunan-bangunan umum yang berdiri disekitarnya. Bangunan Dalam Loka berukuran luas 696,98 m2 ditopang oleh tiang sebanyak 99 buah, namun sekarang berjumlah 96 buah.


Bilangan 99 seperti jumlah tiang utuk mengingatkan agar Raja dalam menjalankan pemerintahan hendaknya mengadaptasi sifat Tuhan sebanyak 99 jumlahnya. Yaitu, rahman/pengasih, rahim/penyayang dan seterusnya.


Sedangkan tangga yang menjadi pintu masuk ke istana, mengambil bentuk sebuah pendakian yang mengadung konsepsi nilai bahwa siapaun seyogyanya menaruh hormat kepada Raja. Hal ini dinyatan, melalui sikap tubuh yang membungkuk manakala memanjat tangga istana.


Susunan ruangan dalam istana yang asli terdiri dari beberapa bagian antara lain: Lunyuk Agung yakni ruangan depan atau balairung, tempat untuk musyawarah, penerima tamu-tamu agung, resepsi kerajaan, upacara-upacara adat dan sebagainya. Bagian barat terdapat beberapa kamar yaitu kamar sholat atau sembahyang, kamar peraduan Sri Sultan serta kamar untuk tuan putri beserta dayang-dayangnya. Bagian timur terdapat empat buah kamar dipergunakan bagi putra dan putri Sultan yang sudah berumah tangga serta pejabat istana yang berstatus kepala rumah tangga kerajaan. Bagian tengah antara kamar-kamar sebelah timur dan barat merupakan ruangan besar memanjang, berfungsi sebagai tempat untuk mengatur hidangan untuk segala macam upacara adat dan selamatan, sedangkan pada hari-hari biasa merupakan ruangan untuk berkumpul, bercanda para keluarga istana. Selain itu pada malam hari ruangan itu dimanfaatkan untuk ruang tidur. Aslinya, di luar bangunan induk bagian sebelah barat memanjang terdapat jamban Sri Sultan dan permaisuri serta para tuan putri. Di samping itu juga terdapat sebuah Bala Bulo atau anjung-anjung berbentuk rumah susun berlantai tiga. Bagian bawah untuk tempat tidur para putri yang belum berumah tangga, dan bagian atasnya khusus untuk para putri raja berikut keluarga istana yang wanita dan para dayang-dayangnya. Dikala ada keramaian pada upacara-upacara adat, maka bagian atas ini berfungsi pula sebagai tribune untuk menonton.


BEKAS istana Sultan Sumbawa yang lebih dikenal dengan Dalam Loka, kini tidak lagi berdiri kokoh seperti sebelumnnya. Sejak beberapa tahun terakhir ini, Istana Tua yang menjadi icon sejarah ini telah dirobohkan untuk renovasi total. Namun renovasi ini memakan waktu sangat lama dan dikhawatirkan tidak bisa dirampungkan.Kabar terakhir terdengar bahwa kendala utama renovasi Istana Tua itu karena kayu jati alam mesti didatangkan dari Jawa. Sampai berita ini diturunkan, tidak ada tanda-tanda bahwa renovasi itu berjalan. Kini tinggal rangka-rangka kayu yang masih berdiri. Entah kapan renovasi itu selesai. Tidak ada pihak yang merasa berkewajiban memberikan penjelasan.


Sejak 1994 bangunan ini berubah fungsi menjadi museum daerah. Hal ini dimaksudkan selain untuk melestarikan bangunan Dalam Loka, juga dihajatkan sebagai tempat menyimpan benda purbakala yang ada di daerah ini. Tanggal 1 Maret 1994 Dalam Loka resmi menjadi Museum sesuai Keputusan Bupati Sumbawa bernomor 118/1994.Sejak saat itulah semua benda purbakala yang masi bisa diselamatkan disimpan di Dalam Loka, seperti giologika, etnografika, arkeologika, historika dan yang sejenisnya. Perhatian Pemerintah Kabupaten Sumbawa saat itu terbilang sangat besar. Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa kali rehab ringan beberapa bagian Istana Tua itu yang dialokasikan melalui APBD II Sumbawa, bahkan sejumlah karyawan moseum mendapat honor dari APBD II setiap tahun nya. Kalau nggak salah catat, petugas moseum saat itu ada 11 orang termasuk Kepala Moseum nya bapak Haji Dinollah Rayes.


Namun sayang setelah Bupatinya digantikan oleh putra-putra daerah, justeru Dalam Loka dibiarkan terbengkalai. Jangan tanya soal honor petugas moseum, benda-benda purbakala yang dulu disimpan di moseum pun hilang tak berbekas. Yang tertinggal hanyalah gambar-gambar usang dan beberapa benda yang tidak lagi mencerminkan kejayaan Kerajaan Sumbawa dimasa lalu.Dalam APBD II Sumbawa tahun 2009, juga tidak ada anggaran khusus bagi upaya pelestarian Dalam Loka.

Samawa Art Festival (IPMSY)

Samawa Art Festival 2008
Festival Kesenian Samawa bertujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat Jogja dan pengunjung untuk lebih mengetahui Adat Samawa. Acara yang diadakan sekitar bulan Januari 2008 ini cukup diminati oleh banyak orang.
Berikut ini foto teman-teman yang telah berperan dalam SAF








Futsal Samawa Competetion 2011

Samawa Futsal Competetion III
Acara yang diadakan oleh Mahasiswa Sumbawa-Jogja ini
berlangsung pada tanggal 5-6 Februari 2011 di GAOL futsal, Seturan
dimana tim yang keluar sebagai juara adalah
Juara I : Keong Racun
Juara II : Vlat EA
Juara III : Asrama Sumbawa
Juara Favorit : Tim Sukses.....heheeeeeheee

Keong Racun


Vlat EA

Asrama Samawa

Tim Sukses

Senin, 25 April 2011

Kisah Undru Alias Dea Mas dan Perjuangannya

Hari kamis 17 Rajab 1320 H, bertepatan dengan tanggal 20-7-1906 Masehi, dari sejak pukul 4 subuh hingga pukul 12 siang, si jago merah (api) berkobar membumi menghanguskan kampung Sapugara/Taliwang. Berang Rea (Brang Djamid) pada waktu itu meluap dahsyat, banjir. Langit mendung cuaca redup, angin bertiup menderu, sedang hujan turun gerimis yang diiringgi oleh gemuruhnya halilintar dan kilatnya guntur sambung-menyambung laksana membelah angkasa, bagaikan menggunting langit. Bencana mala petaka menimpa wilayah Kecamatan Taliwang. Orang-orang pada kaget heran dengan kejadian yang mendadak datang, mereka terpaksa siap siaga, berlari-lari mencari tempat perlindungan, rnenyelamatkan diri dari bahaya api dan air, dus, dari hantu maut. Mereka tak rindukan harta, cuma nyawa yang dipikirkan. Sementara air belum surut, dan hujan belum reda, si jago merah tak enggan padam, tiang-tiang, dinding-dinding, dan atap rumah-rumah, Mesjid dan lumbung-lurnbung padi habis landas dilandanya. Sapugara bermandi api. Dari sana sini terdengar letusan-letusan, ledakan-ledakan peluru bedil, geranat, meriam beruntun, berirama yang diselingi oleh jerit pekik tangisan manusia-manusia, serta rintihan hewan-hewan. Sungguh seram, Negeri, menegakkan bulu roma. Sapugara yang telah mewakili peperangan. Sapugara jadi abu, arang setelah si api padam disaat sang surya tergelincir. Kalau kita bertanya pada orang-orang pada waktu itu, siapa yang mernpelopori perang Sapugara itu, siapa orangnya ? orang-orang dengan spontan menjawab Undru. Undru dikenal sebagai seorang tokoh terkemuka oleh rakyat Sapugara Taliwang, pada saat itu menjabat sebagai Demung, (Camat) pada kecamatan Taliwang yang bertempat di Sapugara, berdasarkan persetujuan Sultan Moh. Kaharuddin Sultan Sumbawa. Keturunan dan anak siapa Undru itu?
<!--more-->
Menurut hikayat rakyat, Undru lahir di Taliwang pada tahun, ? anak tunggalnya Dea Mangku, keturunan raja Goa keturunan Makasar dengan gelar Raja Sulabesi dan Ratunya Angin Mamiri . Kemudian kita bertanya lagi, siapa itu Dea Mangku ?
Diatas dikatakan Dea Mangku keturunan Raja Goa " Makasar dan ia lahir disana. Ketika ia masih dalam usia muda, Dea Mangku senang merantau ,berkelana mengarungi lautan, melintasi pulau-pulau mencari ilmu dan pengalaman di negeri orang. Diantaranya sebelum ia masuk dan rnenetap di Taliwang Sumbawa, pernah juga ia berkelana di Solo (Surakarta) Jawa Tengah, menuntut ilmu bersama-sama disana dengan pangeran Mangku Bumi ke III Raja Solo. Sudah barang tentu banyak ilmu yang
diperolehnya. Dan ilmu-ilmu itu selalu ia amalkan kepada orang-orang yang memerlukannya. Memang ilmu adalah untuk amal. Disamping itu Dea Mangku memiliki sifat-sifat pribadi yang tangkas, sigap serta pemberani. sudah seyogyanya apabila anaknya juga memiliki karakter/piil perangai seperti ayahnya. Nama Dea Mangku pernah gempar disekitar Alas, Seteluk, Taliwang dan Jereweh, setelah mampu rnenempuh dan menaklukan Mirata di bukit (olat) Mantar (seteluk) bersama seorang penggawanya yang bernama Abbas. Begitulah tentang Dea Mangku, sekilas riwayatnya yang telah mencetak seorang putra : UNDRU alias Dea Mas.
Dari sejarah Indonesia kita tahu bahwa bumi, air dan udara Nusantara alam kita ini kaya oleh bahan-bahan sandang pangan. Pernah seorang wartawan asing rnengatakan bahwa, sepotong surga di dunia ini adalah Indonesia. Lautnya penuh oleh bejenis-jenis ikan, buminya subur dengan tumbuh-tumbuhan yang berfaedah buat kepentingan hidup
manusia. Juga hewan-hewan ternak, juga para ahli pertambangan dan ahli kimia menerangkan bahwa didalam tanahnya banyak mengandung bahan-bahan mineral dan bahan-bahan pelikan. ujarnya kaya dengan burung-burung yang bermacam-macam rupa, dari yang liar, juga yang jinak sampai kepada yang elok. Diabad yang modern ini udara sangat dimanfaatkan, bukan hanya untuk bernapas, juga untuk kepentingan pekabaran yakni radio.Begitu pula panorama alamnya indah tiada tara dari pantai sampai ke puncak gunung, dari kota besar yang ramai sarnpai ke desa-desa dan dusun-dusunnya yang sunyi sepi itu, indah tak tersaingi. Coba kita tengadah ke langit, nilakandi yang biru nirmala itu, kita lihat awan putih bertumpuk-tumpuk, laksana sutera di tiup bayu beralih-alih bentuk, kadang-kadang seperti merpati, tetapi sebentar kemudian menjelma laksana bidadari. Kebudayaannya, adat-istiadatnya, bahasanya dan budi perangai penghuninya senantiasa menunjukan keindahan belaka.
Justru karena alam kita ini kaya, subur serta indah, maka kota-kota dan pantai-pantainya ramai oleh perdagangan, antara saudagar-saudagar dalam dan luar negeri berlaku saling hubungan, saling tukar-menukar barang-barang dan sebagainya. Sehingga tidak heran jika Indonesia Nusantara ini tersiar nampaknya kemana-mana keseluruh jagad ini. Sahdan pada pertengahan September 7602, 4 buah kapal layar yang berkapasitas ratusan ton, berlabuh di Anyar/Banten Jawa Barat. Kapa-kapal itu berbendera kebangsaan Belanda yang masing-masing kapal di pimpin oleh seorang Kapitan. Diantara Kapitan itu ialah : Jan Pieter Zoon Coen, Pieter Booth, Pieter Ebert dan Cornelis De Houtman. Mereka diterima oleh Pangeran Hasanuddin Sultan Banten. Atas pertanyaan Sultan, Keempat Kapitan tersebut rnenjawab bahwa mereka datang ke Nusantara ini bermaksud mencari dan membeli rempah-rempah, pala, cengkeh, merica, ketumbar, laos, jahe, kayu manis dan sebagainya. Sambil meluaskan perhubungan perdagangan dan persahabatan. Namun pada kenyataannya/prakteknya rnereka menjajah. Banyak raja-raja yang ditaklukkan, ditundukkan. Sehingga makin lama kekuasaannya semakin meluas, terpaksa mau tidak mau raja-raja dan rakyat pada waktu itu harus menyerah kepada si mata biru.
Tiga warna mulai berkibar diangkasa Indonesia. Pemerintah belanda mulai menerbitkan peraturan-peraturan, undang-undang baru yang mencekik rakyat yang semata-mata bertentangan dengan tradisi dan hak-hak asasi kemanusiaan kita. Diantara peraturan-peraturan rirnba yang ditimpakan kepada rakyat ialah mengenai rodi ( kerja paksa) dan masalah pajak (rente). Rakyat dimana-mana dipaksa keria tanpa aturan waktu, tetapi harta milik rakyat dikenakan juga pajak yang tinggi. Padahal kekayaan kita yang dibina oleh keringat tenaga rayat, malah digaruk ke Holand, di gunakan untuk pembangunan negerinya.
Sungguh tak tertahan penderitaan rakyat pada saat itu. Meraka ditindas, diperas, diperbudak, dan diperbodoh, meraka hendak bergerak, hendak bersuara untuk mengeluarkan pendapat dan fikirannya, dilarang, ditengah peraturan itu-ini juga sifatnya mengancam. Siapa menentang ditindas,setidak-tidaknya dibuang, diasingkan keluar daerah.
Demikian rakyat dari Sabang sampai Merauke mengalami nasib serupa, segala pahit getirnya penderitaan hidup, sama-sama ditelan, sama-sama dirasai. Tapi ada juga sebagian kecil rakyat yang tak pernah menderita yakni golongan feodal, Belanda hitam matanya, yang selalu mendewa-dewakan arwah kolonial, mengumpat bangsa sendiri. Orang-orang yang semacam ini hanya mau gendut sendiri, mewah sendiri, merdeka sendiri. Dia tidak mau insaf bahwa segala kesenangannya itu dibangun diatas imperium air mata dan darah rakyat yang tidak berdosa.
Dia beranggapan kalau hidup di dunia ini katanya hanya untuk mengejar dan mencari kesenangan belaka walau harus ditempuh dengan muslihat licik dengan istilah pandai hidup, alias bunglon- bunglonan.
Dia berlagak orang besar, pemimpin yang berkaliber, mau dihormati dan sebagainya. Yang jelas dia itulah makelar gelap yang telah menjual Bangsa dan Negaranya kepada si lmperialisme si rambut pirang.
Begitulah gambaran singkat situasi pada waktu itu di tanah air kita.
Bagaimana tidaklah rendah peradaban kita, dan bagaimana tidaklah rusak keabadian kita selagi kita dalam cengkraman penjajahan yang berabad-abad lamanya.
Mari kita kembali ke Undru.
Tadi telah dikatakan tentang watak, cara kerja yang sama dengan ayahnya Dea Mangku.
Rakyat telah mencurahkan kepercayaan kepadanya, jika Undru harus mengemban jabatan sebagai Camat di Kecamatan Taliwang. Undru jadi Camat Taliwang yang beribu kota di Sapugara. Menjadi camat pada waktu itu bukan tugas yang menyenangkan, menghadapi kewajiban yang berat, yang perlu dipecahkan dan dilaksanakan, Sebagai problem yang harus di kerjakan dengan teliti serta ulet. Sebab yang dihadapi bukan setumpuk kertas di atas meja, bukan berlembar-lembar surat didalarn laci, dan bukan pula huruf yang bergaris di dalam buku-buku dengan cap stempelnya, bukan. Yang dihadapi adalah rakyat, manusia-manusia yang berfikir dan berkemauan. Yang dihadapi adalah Bangsa dan Negara, yang pada waktu itu sedang sakit dalam genggaman Imperialisme Belanda.
Rakyat Sumbawa adalah merupakan sebagian/sekelompok dari keluarga besar rakyat lndonesia. Otomatis kalau nasibnyapun sama pula dengan rakyat-rakyat diseluruh pelosok tanah air kita ini. Rakyat Sumbawa pun diperlakukan secara tidak senonoh oleh penjajah. Belanda mengeluarkan peraturan-peraturan baru katanya, bahwa penduduk Sumbawa di haruskan bekerja secara.sukarela, membuat jalan-jalan raya, membangun jembatan-jembatan, gedung-gedung dan lainnya. Mereka disuruh banting tulang tanpa upah. Siapa lalai dipukul seperti kerbau, disetrap, disuruh kerja terus-menerus, selama tiga kali dua puluh empat jam tanpa hentinya.
Begitu pula harta pusaka sang rakyat, tak lepas dari ancaman bea kolonial, semuanya dikenakan pajak dan rente yang tinggi. Barang siapa yang enggan bayar pajak, harta miliknya disita, diblokir, serta sipemiliknya dijadikan budak, siapa yang rnenentang, tentu ia telah rela menjadi tuan rumah di Bui. Rakyat pada masa itu mulai gelisah, mereka merasa kalau kemerdekaan hidupnya terganggu. Pepatah berbicara ”Fajar menyingsing bukan karena jago berkokok, karena matahari terbit”. Begitu pula Undru ketika sebagai Camat, ia tak tega menagih rente kepada rakyat yang sedang demam dengan kesusahan-kesusahan hidup, sekalipun ia disuruh oleh pemerintah kerajaan. Ia selalu berpikir, ”Kalau aku patuh kepada Belanda pasti rakyat memusuhi aku, padahal aku lahir ditengah-tengah rakyat, aku anak kandung rakyat, rakyat bangsaku yang sedarah seketurunan. Aku jadi camat karena rakyat telah menganjurkan kepercayaan mutlak kepadaku, bahwa akulah yang rnenjadi pengemban segala amanatnya. Belanda? ah, mereka pengemis yang hidupnya persis bagai benalu tumbuh nempel di dahan kayu. Ia tumbuh hidup tumbuh subur karena rnenghisap zat-zat kayu, sedang dahan itu sendiri regas kering-kerontang. Belanda yang menjajah yang mengeruk semua kekayaan alam negeri kita, tapi mengapa dia yang mesti menagih, memunggut pajak kepada bumi putra ?Ini tidak seharusnya demikian ini tidak adil namanya”.
Begitulah tanggapan-tanggapan, konsepsi dan analisa,. buah pikiran Undru. Ingatannya selalu-cenderung dan terpusat kepada nasib hidup rakyat, rakyat yang sedang digulung oleh derita dan air mata.segala jerit pekik rakyat seolah-olah telah mengilhami seluruh kehidupan Undru. Kini Undru harus banyak bicara dan harus banyak bekerja segala kesibukan. Siang hari ia bekerja seperti biasa, malam hari ia konsolidasi dan bermufakat dengan para punggawa-punggawanya. Tentang bagaimana cara mempersatukan segenap potensi rakyat dan bagaimana kita mengatur taktik, siasat peperangan nanti apabila terjadi. Perang melawan kedholiman Stelsel Kapitalisme, Imperialisme Belanda dan antek-anteknya.
Kini Undru muncul ditengah-tengah rakyat, bangkit mempelopori rakyat mengajak kepada rakyat untuk berjuang demi keadilan dan kebenaran sekalipun jiwa raga yang dipertaruhkan. Keadilan dan kebenaran bisa tercipia apabila kelaliman telah dapat dihancurkan. Rakyat yang berhak menuntunnya tidak bisa bersikap manis, apalagi main mata dengan lmperialisme, selain daripada melawannya, walau dengan cara apapun
yang ditempuhnya. Jadi kesimpulannya, rakyat berjuang bukan karena Undru, tapi Undru berjuang dan bergerak karena rakyat, sama kira-kira dengan pepatah tadi.
Undru bersama punggawa-punggawa, para pemuka masyarakat dan rakyat wilayah kecamatan Taliwang rnulai menyusun/mengatur barisan siaga guna menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan-kemungkinan yang datang secara tiba-tiba dari pihak lawan.
Selanjutnya Undru telah mengambil Ne-curong dari Mataiyang, seorang pemelihara/penembak ulung meriam.
Nama meriam yang dikenal pada waktu itu ada dua buah, yaitu Dedara Gempuk dan Taruna Banjar, yang sanggup memuntahkan peluru Bubit Mumpir untuk menyapu bersih musuh-musuh. Demikian pula pada tiap malam jum'at Undru berchulwats ditempat-tempat tertentu sarnbil membakar menyan. Menghalwati simayor bedilnya yang bersubang emas itu dan bermesin Pecunang namanya yang terbuat dari kuningan bercampur tembaga dan perak. Dan pada saat itu Undru sudah kurang aktif bekerja di kantor. Sikap Undru dan kawan-kawan telah diketahui lawan-lawannya, oleh Belanda bahkan Belanda makin curiga setelah segala-gala rencana undru tsb, tercium. Demi melihat gejala-gejala yang sedemikian itu Belanda mengirim beberapa orang utusan yang membawa berita. Pilih satu diantara dua, bayar pajak ataukah perang.
Setelah utusan tersebut diterima oleh Undru ia rnenjawab bahwa bagaimanapun ia serta seluruh rakyat Kecamatan Taliwang yang tunduk dibawah pengaruhnya tidak mau bayar pajak dan lain-lainnva dan mengenai perang, Undru menandaskan bahwa untuk merebut kekuasaan dan kemerdekaan kami akan menempuh dengan berbagai cara. Apabila tidak berhasil dengan cara damai, dengan cara perangpun boleh.
Selanjutnya Undru menegaskan kepada utusan-utusan tersebut. Bahwa memang tatkala pertama kali Belanda datang ke Indonesia segala janjinya manis dan indah. Tapi prakteknya bertolak belakang. Katanya mencari rempah-rempah sambil meluaskan jaringan-jaringan perdagangan yang bersahabat dan sebagainya. Tetapi kenyataannya disulap dengan menjajah, menindas, mengeruk kekayaan serta mengadu dornbakan Bumi Putera sendiri yang tiada berdosa.
Demikian jawaban Undru buat Belanda yang disampaikan kepada utusan-utusan tersebut. otomatis kalau jawaban-jawaban Undru itu diterima oleh Belanda dengan hati gusar dan geram. Undru dan kawan-kawannya telah merasa jika dalam waktu singkat nanti peperangan akan berkobar. Maka rakyat diberi peringatan terutama orang-orang tua yang sudah pikun, perempuan-perempuan dan anak-anak agar segera evakuasi atau menyingkir di ternpat-tempat yang aman. Begitu pula anak istri Undru telah diungsikannya dan diberi peringatan supaya dalam menghadapi macam-macam musibah hendaknya tetap tenang dan waspada.
Sahdan, setelah segenap sesuatunya mustaid maka bersiagalah Undru dengan pasukannya menanti kedatangan serdadu si mata biru itu
Sementara itu serdadu-serdadu Belanda dari Sumbawa Besar. Telah dipindahkan ke Taliwang lengkap dengan segenap peralatannya dari Taliwang mereka mulai mengatur barisan dalam selagorde pasukan berkuda (kabaleri), pasukan-pasukan luar biasa (infantri) dan pasukan-pasukan, penyelidik (Intelegiance Kamuvalse) kesemua pasukan-pasukan itu dipimpin oleh Kapten Yan Clement. Pasukan-pasukan serdadu Belanda tersebut. Bergerak berduyun-duyun menuju Sapugara melalui Brang Panemu dan Bre, ini terjadi pada tanggal 11 Radjab 1320 H (19 Juli 1906) sekira jam menunjukan pukul enam sore saat itu.
Dan serdadu-serdadu Belanda yang didrop kira-kira menurut taksiran tidak kurang dari 60 lusin yaitu720 orang.
Pasukan mata-mata Undru melaporkan bahwa Belanda telah masuk menduduki Bre (nama desa), rencana mereka nanti malam pukul 2 malam akan melakukan penyerangan ke sapugara. setelah menerima laporan demikian Undru segera memerintahkan kepada Punggawa Ireng, Punggawa Beaus, masing-masing Sangaria dan Talup, agar segera menyusun tentaranya/pasukannya masing-masing, siap siaga menempati tempat-ternpat yang strategis letaknya guna memberikan pukulan perlawanan sengit kepada setiap musuh.
Malam itu malam kamis 17 Radjab 1320 H ( 20 Juli 1906) suasana sekitar kampung Sapugara, sunyi senyap, tiada bintang yang menampakan dirinya dicakrawala, karena tertutup oleh kabut dan awan hitam menggayut diangkasa, yang hitam laksana cadar yang menutupi wajah manis gadis gurun pasir, hanya jangkerik dan bangsa serangga berlomba mengantarkan suara merdunya keruang alam ini, membuai bersenandung dimalam syahdu.
Meski malam itu sunyi sepi, namun jantung hati manusia pada berdenyut dan berdebar diamuk oleh bermacam-macam hayal, apa jadinya gerangan nanti apabila jadi bertempur, perang dan lain-lainnya.
Tooor. .. . Dooor... ..Tooor. ... .. suara pistol, sebagai sen (tanda) tiga kali berturut-turut dari pihak Belanda, yang di tembakan ke atas, pertanda bahwa perang akan dimulai.
Begitu juga Tentara Undru dan kawan-kawan dengan tembakan Dorloknya lima kali berturut-turut memecah keheningan malam sebagai tanda balasan.
Setelah kedua belah pihaknya bermain kode, mulailah mereka-mereka bertempur. Saling bidik, saling tembak, saling pekik, perang campuh, hebat seru dan menyeramkan. Gelegamya suara meriam dan senapan serta gemerciknya pedang beradu, seolah-olah sebuah adegan drama yang menegakkan bulu tengkuk. Itu terjadi pada tanggal 20 Juli 1906, yang diawali sejak pukul 4 subuh dan berakhir pada jam 12:00 siang, dengan lenyapnya kampung Sapugara. Dan disini tidak usah kita lukiskan panjang lebar tentang bagaimana gagah dan sengitnya perlawanan Undru dan kawan-kawan terhadap lawannya yang nyatanya hanya tinggal tiga lusin (36 orang) hanya sisa-sisa serdadu Belanda yang masih hidup, sedang Kapten Yan Clement, mati terbunuh dalam peperangan itu.
Tiada berkata lagi besarnya resiko Belanda yang mesti dikorbankan untuk keperluan perang, baik kerugian jiwa maupun kerugian material. Ini tidak heran berdasarkan kenyataan yang pernah di saksikan oleh rakyat pada zaman itu yakni apabila Si bedil Mayor meletus, maka Pecunang dalam sebutir sanggup menembus musuh-musuh dua setengah lusin (30 orang).
Menurut cerita bahwa peluru Pecunang itu memiliki keistimewaan yang tak pernah dimiliki peluru dan senjata lain, dan mempunyai keajaiban yang luar biasa. Apabila peluru tersebut di tembakan, kena atau tidak kepada sasarannya, maka lazimnya peluru itu kembali lagi kepada pemiliknya. Jadi sama dengan senjata yang dipergunakan oleh Hotentot suku pedalaman asli Benua Australia, yang bernama Bumerang.
Rupanya sama dengan busur panah.Dan kalau sekarang pada abad modern ini sama dengan peluru kendali yang digerakan oleh tenaga atom.
Kalau dari pihak lawan banyak yang jatuh korban, maka dari pihak Undru dan kawan-kawan pun tidak sedikit yang gugur/tewas di medan laga .memang didalam peperangan orang tidak memikirkan siapa benar dan siapa salah, siapa menang dan siapa kalah. Karena perang adalah penderitaan dan kehancuran belaka mendengar perkataan perang, terbayanglah dalam kelopak rnata kita dan terdengarlah oleh kita, sorak, sorai gemuruhnya senjata, jeritan dan tangis, tersemburnya darah, daging-daging yang koyak berkeping-keping serta tulang belulang berserakan.
Ngeri dan sungguh mengerikan. Katanya jiwa itu mahal harganya dan lain-lain. Tetapi mengapa begitu murah kalau ditembus sebutir peluru atau disambar ujung tombak. Betapa tak redanya pecaturan perang antara manusia di muka bumi ini dan betapa tak habis-habisnya ibu pertiwi kita ini dilumuri darah dan air mata, mengapa penderitaan hidup ini selalu menari-nari dimuka kita, datang dan pergi silih berganti. Perkataan damai laris diobralkan oleh pimpinan-pimpinan Bangsa di Dunia ini, laris seperti pisang goreng dijaja di pasar. Betapa bahagia kita bila mendengar kata damai itu. Namun untuk menciptakan perdamaian itu adakalanya harus ditebus dengan perang, oleh peperangan yang terkutuk.
Sejarah membuktikan apabila terjadinya perang biasanya diakhiri oleh drama yang memilukan hati, bangunan hancur berpuing, hantu kelaparan dan kemiskinan mencekam kehidupan, pengemis-pengemis dan anak-anak yatim piatu yang kehilangan ayah ibu, sebagai mahkota hidupnya bergelandangan dimana-mana, juga perempuan-perempuan yang merasa dirinya agak cantik terus lari ke dunia pelacuran, rnenjajal kehormatan tanpa tarif.
Semuanya itu karena perang, karena menderita lahir batin dan karena lapar. Dalam situasi yang demikian itu, bermacam-macam penyakit yang terjangkit, menjangkiti tubuh-tubuh manusia, TBC, cacar, kudis, busung lapar, sakit kuning, raja singa/spilis, patel dan lain-lain. Panca indera manusia sudah banyak kurang, cacat, infalit.
Belanda telah merasa jika dipihaknya banyak menderita, pengorbanan. Kerugian-kerugian yang parah, akibat perang Sapugara itu. Maka dicarilah muslihat lain untuk menundukan Undru dan kawan-kawan. Mulailah Belanda menjalankan politik adu. domba dan dikuasai ( DEVIDE ET IMPERA)nya terhadap Bumi Putera. Belanda banyak menyebarkan mata-mata sewaan alias Belanda pisak (hitam/ bangsa sendiri). Mereka disuruh propaganda dengan kalimat yang manis berbisa. "Saudara mau hidup merdeka dan mewah ? Ikut kami Belanda dari Nederland, datang ke Indonesia ini bukan bermaksud menjajah, tapi betul-betul hendak mendidik dan memajukan taraf hidup saudara-saudara ketempat yang lebih baik, agar saudara-saudara tidak bodoh dan buta huruf. Saudara-saudara jangan keliru kemerdekaan letaknya adalah pada persahabatan
dan ke exsistensi secara damai, bukan pada pertempuran. Dan makin terus saudara melakukan serangan kepada Belanda, berarti kemerdekaan saudara akan musnah dan malah rantai belenggu yang rnenjerat saudara-saudara.
Jangan saudara-saudara turut Undru, sebab Undru orang bodoh, peradabannya rnasih rendah. Ikuti Undru berarti penderitaan hidup datang bertubi-tubi, tapi bersatu dengan Belanda berarti sorga, kesejahteraan dan kedaulatan saudara-saudara akan terjamin penuh. "
Begitu manis dan lihainya propaganda Belanda yang diludahkan kepada rakyat Kecamatan Taliwang khususnya. Mungkin buat orang yang lemah iman dan kurang memiliki dasar mental yang sehat, gampang saja terpesona, terpikat, bahkan bertekuk lutut dihadapan Imperialis, si mata biru Belanda itu. Orang-orang semacam itu adalah jelas penjilat, pencari muka dan pembunuh, algojo bangsa sendiri. Namun bagi orang-orang yang tebal iman, luhur fiil perangainya dan berjiwa patriot-complit, omongan-omongan si rambut pirang itu, adalah laksana pedang yang ditancapkan kedalam dada sendiri.
Timbullah perasaan benci yang tiada putus-putusnya, dan dendam kesumat yang tak terleraikan lagi kepada Belanda.
Undru dan rekan-rekannya bersemboyan : "DARI PADA MUNDUR MENYERAH, LEBIH BAIK MAJU BERLAWAN, MESKIPUN HARUS MATI BERTINDIH BANGKAI"
Demikianlah tekad,vang tercetus dalam hati nurani mereka, tekad yang tulus ikhlas. Undru dan kawan-kawannya pantang menyerah mentah-mentah kepada lawan, mereka terus bergerilya. Berkali-kali pasukannya memukul mundur musuh, tapi berkali-kali juga mereka terpukul, melainkan rakyat banyak yang jatuh korban. Selama Undru dan kawan-kawannya bergerilya, selama itu pula Belanda mempergunakan kesempatan-kesempatannya berpropaganda, sehingga banyak rakyat yang menyerah tanpa syarat, tak lagi bersedia perang.
Selama Belanda terus melakukan pengejaran-pengejaran yang di barengi dengan propaganda-propaganda licik untuk mempengaruhi dan memancing publik (masyarakat), tapi Undru dan kawan-kawan kian sengit memberikan balasan perlawanan sambil bergerilya, merayap terus menaiki tebing-tebing curam, menuruni lernbah-lembah dalam, bersembunyi disela-sela batu terjal antara Gunung Keminvak Bakatmonte, terus merayap mendaki bukit-bukit Rarak dan Rungis.
Moral sahabat Sahabat Undru makin tinggi serta semangat mereka untuk bertempur kian mendidih kian bergelora, setelah mengetahui banyak pihak musuh yang rontok.
Menurut cerita rakyat, tatkala berkobarnya perang di Rarak dan Rungis ratusan lusin serdadu-serdadu belanda yang amblas dihujani batu-batuan besar oleh tentara Undru dan kawan-kawannya, dari atas celah-celah
bukit.
Makin ggih Undru dan kawan-kawan melancarkan perlawanansambil membobolkan benteng/loji-loji pertahanan musuh, makin tambah kejam Belanda melakukan penindasan-penindasan dan siksaan-siksaan terhadap rakyat, suatu perbuatan yang di luar batasan kemanusian. Tidak sedikit gadis-gadis yang rusak kehormatannya karena diperkosa. Sungguh tak tertahankan oleh rakyat tentang keganasan simata biru itu. Bukan masalah yang aneh apabila pasukan-pasukan tentara Undru dan kawan-kawan kian hari kian menipis, kian surut bahkan kian berkurang jumlahnya. Mereka terbentur oleh makanan, obat-obatan serta persenjataan. Bagaimana tidak demikian, karena banyak lumbung-lumbung padi dibakar. Serta alat senjata yang dipergunakan oleh lawan jauh lebih besar dan lebih modern pada waktu itu.
Tegasnya Undru dan kawan-kawan telah merasa, iika dan pengikutnya sudah terjepit. Mereka mengadakan musyawarah dan mufakat dalam memecahkan problern-problem yang di hadapinya yang kemudian melahirkan suatu keputusan, bahwa Undru dan kawan-kawan sebagainya menyerah tanpa syarat kepada Belanda. Ini dikandung maksud agar supaya rakyat tidak jatuh korban lagi, mengingat dan menimbang pula bahwa pengaruh Undru dan kawan-kawan dikalangan mata rakyat sudah kabur, yang dikarenakan oleh propaganda- propaganda busuk Belanda. Selama perang keluarga Undru dan kawan-kawan, anak-anak, istrinya hidup tercecer tidak menentu lagi, dan sebagainya.
Rakyat mengisahkan pada bulan November 1906, Undru dan kawan-kawannya turun dari bukit rimba Rarak menuju ke Taliwang dengan diusung oleh rakyat, menyerahkan diri kepada Belanda. Ketika Undru menyerah badannya kurus, pakaiannya kumal-kumal, lagi pula sering batuk-batuk saja karena terlalu kuat rninum candu. Segala tekadnya yang tulus iklas yang pernah di ikrarkannya tempo hari itu, disaat ia sedang dijajahnya, kini telah digagalkan dan di koyakkan oleh suasana yang krisis. Ia kembali ke Taliwang bukan seperti di masa lampau sebelum perang, tetapi kini ia pulang menyerahkan jirva raganya pada penjajah setelah sekian kali bertempur, demi keadilan, kebenaran dan kemerdekaan serta demi martabat yang luhur. Selanjutnya Belanda rnenjatuhkan vonis
kepadanya bahwa Undru dan kawan-kawan akan diasingkan keluar daerah dalam waktu singkat. Akhir November 1906. Dikala surya timbul di Timur Raya. Dimana angin pagi yang sejuk membelai bunga-bunga dan dedaunan serta embun-embun yang bertengger berkilauan di ujung-ujung rumput, sebentar lagi akan lenyap dipanas syamsu. Wajah kota Taliwang pada zaman itu bagai bermuram durja. Bukit-bukit belantara yang melingkari sekitar kota serta gunung Samoan yang tegak abadi sepanjang jaman, pada ketika itu diam membisu tak sudi bercanda dengan ombak, dengan angin atau burung-burung yang hinggap diranting kayu. Mereka tinggal bermuram duria, berawan gundah gulana semua. Orang berjubel berduyun-duyun menuju alun-alun persanggarahan ingin melihat pendekarnya akan di buang ke negeri orang, serta ingin mendengar kesan-kesan dan salam perpisahannya. Dengan mengenakan pakaian adat Sumbawa Undru keluar dari persanggarahaan langsung menuju naik ke podium, disambut oleh tepuk tangan riuh rendah, gegap gempita massa : Setelah situasi tenang, barulah dia mengucapkan pidato singkatnya dalam bahasa daerah, yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia kira-kira sebagai berikut :
"Kawan-kawan, sahabat-sahabat seperjuangan yang saya hormati. Selama kita berjuang untuk kemerdekaan Tanah Air kita ini, tak pernah
sctya ragu-ragu bahwa tujuan sejati itu pasti menang. Untuk cita-cita itu, saya dan teman-temanku telah mengorbankan segala hidup ini. Apa yang kita inginkan bagi tanah air ialah hak untuk hidup mulia, untuk martabat yang utuh, untuk kemerdekaan tanpa batasan. Tetapi kolonialisme Belanda dengan sekutunya, tidak menghendakinya. Dan politik mereka dengan sadar atau tidak, secara langsung atau tidak, mendapat bantuan dari pejabat-pejabat tinggi itu yang kita serahi kepercayaan untuk membantu kita. Mereka menyogok beberapa orang dari teman-teman setanah air kita memutar balikan keadaan dan merongrong kemerdekaan kita. Apalagi yang saya dapat katakan tentang mereka? Mati, hidup bebas atau meringkuk dalam penjara, atas perintah kaum Kolonialais.
Bagi pribadi saya sendiri tidaklah menjdi soal. Soalnya adalah Taliwang, Sumbawa yang rakyatnya melarat yang kemerdekaannya telah diroboh menjadi kurungan dan dari luar kurungan itu rnereka menonton kita dengan perasan yang begitu gembira. Tapi bagi saya sendiri tetap tak akan gentar, sebab saya yakin Tanah air yang begitu banyak menderita pasti akan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya."
Demikianlah kira-kira bunyi pidato Undru pada zaman itu. Tatkala ia mengucapkan pidatonya banyak hadirin yang menjatuhkan air mata. Kini Undru telah didampingi oleh istrinva yang setia, yakni SITI dan CEMPAU, serta anak-anaknya yang masih kecil, menunggang atau mengendarai dokar menuju Labuan Balat, dengan dikawal oleh serdadu-serdadu Belanda sambil diiringi oleh para hadirin.
Disela sekian banyak pengiring, KETUB BAE' (Saad) dari Sapugara dan BENGO, H. ABDULLAH dari Bre dan AHO, SEH HASAN dari Ponjok, ikut serta mengantarnya.
Kapal telah siap menanti di Pelabuhan Balat. Istri-istrinya bersumpah bahwa mereka tetap setia, patuh dan taat kepada suaminya, walau di bawa kemanapun juga, mereka tetap sehidup dan semati.
Kala itu matahari telah tinggi, tepat ada diatas ubun-ubun kepala. Setelah selesai pamitan dan bersalam-salaman dengan semua hadirin, ia serta anak istrinya yang setia masuk terus keruang kapal berdiri diatas deks. Serunai berkali-kali di bunyikan, jangkar telah diangkut diselingi oleh suara mesin yang gemuruh, kapal rnulai bergerak pelan, bertolak meninggalkan pelabuhan Balat yang landai itu. Para pengantar mulai melambai-lambaikan tangannya, dengan sapu tangan, selendang, dan lain-lainnya,
mengucapkan selamat jalan dan selamat berpisah. Lambaian tangan mereka laksana daun-daun nyiur ditiup angin, dan sebaliknya Undru bersama keluarganya membalasnya. Suatu lambaian yang mengandung seribu arti.
Setelah kapal menghilang dibalik tirai lautan, para pengantar kembali pulang ketempatnya masing-masing. Disaat itulah baru mereka rasakan bagai mana sedihnya berpisah dengan pendekar seperjuangannya yang pernah menggentarkan musuh dan yang tidak pernah absen dalam memberikan andil bagi tanah Air dan Bangsanya.Sebaliknya Undru sekeluarga baru merasa kesedihan setelah berpisah dengan kawan, sahabat, kaum kerabat seperjuangannya. Matanya berkaca-kaca digenangi air kepedihan, pedih iika mengenangkan masa-masa perjuangannya yang telah lalu.
Kapal laju- terus diiramakan ombak. Undru masih tertegun, matanya keluar melalui jendela bundar melihat daratan pulau Sumbawa tempat tumpah darahnya yang ia cintai Air laut yang gemerlapan disinari surya mengingatkan ia pada istri-istrinya, yang tak mau turut serta seperti Lala Ringgit dan Lala Kemal. Dikabulkannya seraya berkata :
”Dirgahayulah rekan-rekanku yang senasib sepenanggungan ketenangan dan kebenaran ada ditanganmu, pasti. Kedholiman kolonial niscaya hambruk pada suatu saat"
Demikian Undru sekeluarga, hidup terlunta-lunta dalam pembuangan yang bertahun-tahun diayun-ayunkan oleh gelombang jaman, dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dengan dalih akan dimerdekakan, padahal prakteknya dibelenggu dalam bui yang indah.Dan akhirnya pendekar sapugara Taliwang itu menghabiskan hayatnya dikota udang Cirebon Jawa Barat, dengan meninggalkan beberapa orang putra-putri yang masih hidup, kembali pulang berkumpul sanak keluarganya di Sapugara Taliwang. Mereka semuanya kini telah disenja usia. Diperkirakan meninggalnya Undru itu pada tahun 1926 Masehi.